Friday, 19 July 2013

Butuh Bantuan Dermawan

BANYUMAS- Dianti (16), gadis kecil warga Grumbul Giubug RT 03 RW 06 Desa Pancurendang, Kecamatan Ajibarang hanya bisa terbaring di tempat tidur. Sejak divonis menderita penyakit ginjal bocor dua tahun silam, perutnya saat ini terus membesar.
Meski mempunyai Jamkesmas, namun keluarga sudah tidak mampu lagi menanggung biaya akomodasi untuk pengobatan baik di rumah sakit maupun ke pengobatan tradisional. Sang ibu, Rusmiyati (34) mengatakan sejak dua bulan yang lalu, perut anaknya semakin membesar dan beberapa bagian tubuhnya membengkak.
Padahal, dua tahun sebelumnya, kondisinya makin memprihatinkan. Anak pertama dari tiga bersaudara, kini hanya bisa menjalani kesehariannya di tempat tidur. “Sudah empat kali keluar masuk rumah sakit, mulai dari RS Islam Purwokerto sampai Margono Soekarjo Purwokerto. Terakhir di RS Islam sampai 10 hari, tetapi Dianti meminta pulang. Setelah itu, kami baru mengusahakan pengobatan alternatif dari Banyumas, Purbalingga sampai ke Cianjur Bandung sudah dijalani. Hasilnya tetap, tidak ada perubahan,”jelas Rusmiyati.
Menurut Rusmiyati, karena penyakitnya itu, Dianti hanya lulus sekolah dasar. Sejak lulus SD, dua tahu lalu ia sudah mulai sakit-sakitan. Aktivitasnya sehari hari juga harus dibantu keluarga. Mulai dari makan, minum, kencing dan buang hajat.
“Tetapi kami terus berusaha membawa Dianti ke pengobatan supaya sembuh. Tetapi, biaya pengobatan yang kami sudah tidak punya. Tanah bagian saya dari orang tua pun sudah saya jual,”ujar Rusmiyati.
Sementara itu, sang ayah Rusmono (37) mengaku masih tetap bersemangat mengobati anaknya itu. Namun kondisi ekonomi memaksanya untuk pasrah. Penghasilannya setiap hari sebagai penderes gula kelapa, dengan menyewa pohon kelapa tetangga tidak cukup untuk membawanya ke tempat pengobatan lagi.
“Kami juga terikat dengan sebuah bank. Selama ini, uang dari meminjam bank kami gunakan untuk biaya pengobatan Dianti. Kalau ke RS sudah ditanggung Jamkesmas, namun untuk biaya akomodasi dan makan kami juga harus mengeluarkan. Terlebih saat melakukan pengobatan ke tempat tradisional, akomodasinya sangat besar,” ujarnya.
Beberapa waktu lalu, Rusmono pernah berpikir untuk menjual rumah yang ditempatinya selama ini. Pikiran itu muncul kala ia sedang bersama istrinya, merenungi kondisi anaknya yang terus memburuk da butuh biaya pengobatan. Namun, pikiran sesaat itu urung dilakukan, mengingat ia sudah tidak punya tempat lagi untuk berteduh.
Kadus setempat, Karipto saat mengunjungi Dianti berharap ada pihak-pihak yang mau peduli dengan penderitaan warganya. Dengan kondisi perekonomian yang minim dan terbelit utang bank, menjadi kendala keluarga Dianti dalam melanjutkan pengobatan. (gus/acd)


Sumber : Radar Banyumas
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!